mediabangsa.com

Industri otomotif melibatkan banyak perusahaan yang bergerak di bidang pengadaan komponen. Salah satunya ban, komponen paling vital dan tak bisa dipisahkan ini diproduksi oleh pabrikan yang berbeda dengan pembuat kendaraan bermotor baru.

Ban, bagian tak terpisahkan kendaraan bermotor

Berbeda dengan mobil baru yang benar-benar menggunakan ban baru sejak dari pabrikannya, mobil lama yang butuh pergantian ban tidak selalu menggunakan ban baru. Banyak pemilik kendaraan bermotor yang memilih menggunakan ban vulkanisir alias ban lama yang direkondisi seperti ban baru. Selain harganya jauh lebih murah, kualitas dan daya tahan ban vulkanisir juga tak bisa dianggap remeh. Hal ini dianggap cukup menguntungkan dari sisi ekonomi.

Wajib SNI ban vulkanisir

Nah, pertengahan tahun 2018-2019 Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) penah mengeluarkan wacana wajib SNI ban vulkanisir (SNI 3768:2013) sebagai salah satu bagian dari Program Nasional Regulasi Teknis (PNRT) tahun 2018-2019. Di dalamnya mencakup SNI 0098:2012 (ban mobil penumpang), SNI 0099:2012 (ban truk dan bus), SNI 0100:2012 (ban truk ringan) serta SNI 0101:2012 (ban sepeda motor).

Wajib SNI bisa meningkatkan mutu produk dan menjaga persaingan

Menurut produsen ban Dunlop Indonesia, PT Sumi Rubber Indonesia, wacana penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) ban vulkanisir bakal memberikan dampak positif pada industri ban di dalam negeri. Terutama mendorong para produsen menciptakan ban yang berkualitas dengan rangka yang lebih baik. Hal ini juga berperan penting bagi peningkatan keselamatan pengendara di jalan raya.

“Pada dasarnya ada sisi positifnya juga, memperpanjang usia pakai kerangka ban, ya karena bisa divulkanisir. Semakin lama dipakai, semakin sedikit ban dibuang karena bisa dimanfaatkan lagi,” tutur GM Sales Plan & Admin PT Sumi Rubber Indonesia, Hendra Himawan, di sela-sela peluncuran ban Dunlop SP SPORT LM705 di Central Park Meikarta, Cikarang, seperti dikutip dari CNN Indonesia (21/2/2020).

Sisi positif yang lain, dengan harga yang lebih terjangkau dari ban buatan pabrik, ban vulkanisir ber-SNI bakal jadi pilihan alternatif bagi konsumen memilih ban vulkanisir yang lebih aman dibanding ban vulkanisir abal-abal. “Kita sih inginnya ada SNI, kita mendukung, karena pertama bisa meningkatkan kualitas produk dan ini akan meningkatkan keselamatan penggunanya dan produk hasil vulkanisirnya juga. Pengusaha yang main vulkanisir juga dituntut punya teknologi kan jadi tidak sembarangan, itu bagi kita positif,” lanjutnya.

Dunlop belum tertarik

Ban original pabrik lebih berkualita dibanding ban vulkanisir

Meski wajib SNI bagi ban vulkanisir memberi dampak positif bagi persaingan, meningkatkan mutu dan kualitas, Dunlop mengaku saat ini belum tertarik masuk ke bisnis ban rekondisi tersebut. Sebagai salah satu merek ternama yang memiliki permintaan tinggi, Dunlop memilih fokus di produksi ban baru. Di Indonesia sendiri produksi Dunlop mencapai lebih dari 10 juta ban per tahun.