mediabangsa.com

Salah satu aturan penting yang wajib dipatuhi pengguna jalan tol yaitu memacu kendaraan sesuai batas kecepatan diizinkan. Cukup mudah untuk mengetahui karena rambu-rambunya banyak terpasang di sisi jalan di lokasi yang mudah terlihat. Ada yang 80-60, ada juga 100-60. Artinya batas kecepatan maksimum 80 km atau 100 km dan batas minimum 60 km.

Sayangnya, pelanggaran terhadap batas kecepatan tersebut di atas paling mendominasi dibanding aturan yang lain. Kami pernah melakukan pengamatan langsung dari pintu gerbang Tol Weleri, Kendal, Jawa Tengah menuju gerbang Tol Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah sepanjang 62 km dengan kecepatan rata-rata 80-100 km. Hasilnya mobil yang kami kendarai jadi yang paling pelan, lebih banyak disalip kendaraan lain dengan kecepatan tinggi.

Aturan batas kecepatan paling banyak dilanggar pengguna jalan tol

Menurut Direktur Kamsel Korlantas Polri, Brigjen Pol Chryshnanda Dwilaksana, banyaknya pengendara melanggar batas kecepatan di jalan tol dikarenakan mereka kurang memahami dampak negatif yang ditimbulkan. Baik terlalu pelan di bawah batas kecepatan minimum maupun terlalu kencang melebihi batas kecepatan maksimum, semuanya memiliki dampak negatif yang seharusnya tak diabaikan.

“Tidak peduli kecepatan minimal dan maksimal, selama ini para pengendara mobil atau motor tidak memahami mengapa ada pembatasan kecepatan yang ditunjukkan dengan rambu. Kita sering lupa, setiap harinya 60 sampai 80 orang meninggal di jalan.” tutur Chryshnanda seperti dikutip dari Kompas, (5/9/2019).

Dijelaskan pula, penting bagi pengendara bisa menggunakan manajemen waktu sebelum menempuh perjalanan jauh menggunakan jalan tol. Misal, jika harus ke kota lain dengan jarak sekian ratus kilometer pengendara bisa menghitung sejak sebelum berangkat. Dengan kecepatan minimum 60 km atau maksimum 80 km berarti berapa lama mereka akan sampai. Dengan begitu waktu keberangkatan bisa disesuaikan sehingga saat di perjalanan tidak perlu buru-buru.

Dampak kecelakaan makin fatal saat mobil melaju dengan kecepatan tinggi

Dilihat dampak negatifnya, melaju kurang dari batas minimum bisa menimbulkan masalah berupa kemacetan sehingga banyak waktu yang terbuang di perjalanan. Hal ini sangat merugikan secara ekonomi seperti pengeluaran bertambah dan waktu yang tidak efisien.

Sedangkan kalau melaju melebihi batas kecepatan akan menimbulkan black spot alias rawan kecelakaan. Pengendara bisa kehilangan kontrol terhadap kendaraannya yang bisa membahayakan diri sendiri dan pengendara lain. Terlebih untuk kendaraan berat seperti truk dengan muatan yang juga sangat berat, melaju dengan kecepatan tinggi punya risiko lebih besar dibanding yang lain. Sedikit saja terlena bisa berakibat sangat fatal.

“Kalau lancar, mendorong pengemudi melebihi kecepatan maksimal. Jadinya black spot atau rawan kecelakaan. Ini yang perlu kita dorong, pemahaman tentang kecepatan dalam keselamatan berkendara pada pengemudi dan pengendara di Indonesia,” papar Chryshnanda.

Secara kesimpulan, melanggar batas kecepatan di jalan tol lebih besar dampak negatifnya ketimbang manfaatnya.

Berjalan terlalu lambat di jalan tol bisa picu kemacetan