mediabangsa.com – Dewasa ini, micromanage adalah sebuah sistem kepemimpinan yang dianggap dapat berdampak buruk terhadap kinerja karyawan.

Metode yang identik dengan kontrol berlebih dari atasan ini dapat menghambat produktivitas serta moral para pekerja.

Kira-kira, seperti apa sih bentuk dari gaya manajemen satu ini? Mengapa sistem tersebut sudah tidak lagi efektif? Yuk, simak selengkapnya dalam rangkuman Glints berikut ini.

Apa Itu Micromanage?

© Freepik.com

Menurut International Journal of Business and Management Invention, micromanage adalah sebuah manajemen kepemimpinan di mana seorang atasan melakukan pengamatan berlebih terhadap kinerja bawahannya.

Gaya manajemen satu ini menunjukkan bahwa atasan memiliki kontrol yang berlebihan, menuntut detail terkecil terhadap semua pekerjaan dari masing-masing anggota timnya.

Contohnya seperti ini, pada suatu hari, kamu diberikan sebuah tugas oleh atasan. Umumnya, ia akan menjelaskan detail pekerjaan tersebut dan memberimu waktu untuk mengerjakannya.

Idealnya, ia akan pergi untuk membiarkanmu bekerja dan kelak akan mudah dihubungi bila sewaktu-waktu kamu membutuhkan saran.

Namun, bila supervisor hanya memperhatikan detail pekerjaan dan menuntut progres yang merinci tanpa memberikan bantuan, berarti ia adalah seorang micromanager.

Ciri-Ciri Micromanage

© Freepik.com

Seperti yang sudah Glints jelaskan, sistem micromanage adalah sebuah perilaku yang dapat menurunkan kualitas kerja serta moral para karyawan.

Sayangnya, banyak pekerja yang tidak sadar bahwa supervisor mereka adalah seorang micromanager. Maka dari itu, rasanya penting agar semua karyawan mengetahui ciri-ciri sistem micromanagement.

Nah, berikut adalah penjelasan ciri-ciri micromanage yang perlu kamu simak.

1. Tidak pernah puas dengan hasil kerjamu

Micromanagement adalah sebuah sistem di mana atasan tidak akan memberi feedback. Pada gaya manajemen ini, atasan justru cenderung memberikan kritik yang tidak solutif.

Bentuk kritik seperti ini akan menjatuhkan mental dan semangat para karyawan. Maka, wajar saja bila produktivitas mereka terhambat.

Tipe budaya kerja seperti ini bisa dibilang toxic. Tak hanya mengurangi angka produktivitas, micromanage juga bisa menimbulkan gosip di antara sesama pekerja.

2. Emosi yang berlebihan

Bukan hanya kritik kosong, perkataan micromanager biasanya sangat menyinggung sehingga dapat merusak suasana di kantor.

Seorang micromanager tidak akan merasa malu untuk meluapkan emosinya.

Bila ia frustrasi terhadap hasil kinerjamu, biasanya emosi micromanager akan meluap-luap dan melupakan batas etika profesional.

Mereka akan menghiraukan perasaan dan psikis pekerjanya tetapi akan selalu menuntut hasil yang sempurna.

3. Fokus berlebih pada progres pekerjaan

Bukannya memberikan detail dan deskripsi tugas yang memadai, micromanage adalah sebuah sistem yang justru mendorong atasan untuk berfokus pada proses pelaksanaan tugas.

Mengacuhkan cara kerja tim yang dipimpin, atasan hanya akan memerintahkanmu untuk bekerja sesuai standarnya. Selain itu, ia juga akan memberikan opini pada setiap tahap pekerjaan.

Parahnya, atasan akan memberikan hukuman bila detail pekerjaanmu tidak sesuai rencana yang telah ia rancang.

4. Ingin selalu tahu di mana timnya berada dan apa yang sedang dikerjakan

Dalam micromanage, fokus atasan adalah untuk mengetahui di mana pekerjanya berada, serta detail tugas yang mereka kerjakan.

Bagi mereka, mengetahui keberadaan pekerja serta rincian tugas itu penting untuk menerapkan kendali yang ketat.

Atasan juga tak segan untuk memberi tumpukan pekerjaan baru bila karyawannya sedang memiliki waktu luang.

Setelah itu, ia akan memperhatikan bagaimana cara karyawan menuntaskan tugas barunya. Ia akan memonitor kinerja dalam setiap kesempatan tanpa memberi sebuah jarak agar pekerja bisa fokus.

5. Menuntut update secara terus-menerus

Anggap kamu ada deadline karya pada jam 7 malam. Tugas ini merupakan sebuah perintah yang kamu terima pada pukul 10 pagi sebelumnya.

Agar dapat mempresentasikan hasil kerja yang apik, penting bagimu dan anggota tim lain untuk bekerja secara independen tanpa kontrol yang berlebih.

Wajar bagi pekerja bila mereka membutuhkan ruang dan waktu agar dapat bekerja secara maskimal.

Nah, akan tetapi, tugas seorang atasan adalah untuk membantu proses kerja karyawan yang terkadang cukup rumit dan memakan waktu.

Dalam masa proses kerja ini, masukan dari atasan akan terasa bermanfaat utnuk menghadapi semua pekerjaan yang sudah menumpuk.

Sayangnya, seorang micromanager tidak akan melakukan hal tersebut. Dalam micromanage, tugas seorang atasan adalah untuk menuntut update dari pekerjaanmu secara terus-menerus.

Mungkin awalnya hal ini tidak akan terasa tidak berat. Namun, seorang micromanager dapat menyebabkan rasa stres yang cukup tinggi.

Pro dan Kontra Micromanage

© Freepik.com

Bila diterapkan pada waktu yang tepat, micromanage adalah strategi yang sebenarnya dapat memberikan keuntungan.

Terkadang, seorang atasan perlu memonitor dan mengendalikan kinerja secara saksama bila tim yang dipimpin masih kecil.

Sebuah kantor dengan divisi yang muda masih membutuhkan kendali serta kontrol ketat dari para atasan.

Di luar itu, gaya ini tentu tetap memiliki poin plus dan minus. Nah, seperti apasih bentuk pro dan kontra terhadap micromanaging? Berikut adalah penjelasannya.

Kelebihan micromanage

Seperti yang sudah Glints jelaskan, micromanage adalah sebuah sistem manajemen yang cukup penting untuk tim baru.

Meskipun masalah akan datang, pengamatan yang merinci akan memberikan keteraturan dan membentuk sikap disiplin dari para karyawan.

Micromanagement juga efektif untuk pegawai yang baru onboarding. Sistem ini diterapkan agar karyawan dapat dengan cepat terbiasa dengan lingkungan kerja yang baru.

Tak selamanya seorang pegawai baru terbiasa dengan cepatnya alur bekerja di perusahaan ternama.

Di sinilah peran micromanagement dibutuhkan oleh perusahaan. Instruksi tambahan dan bimbingan yang ketat dapat membantu rekrutan terbaru agar konsisten ketika bekerja.

Dalam kata lain, bila tidak berlebihan, micromanage dapat menjadi pendekatan yang valid dan bermanfaat.

Kendati demikian, perlu diingat bahwa micromanagement tidak akan memberikan efek yang baik bila dipertahankan pada tim yang sudah besar dan stabil.

Kekurangan micromanage

Secara ringkas, micromanage adalah sebuah gaya kepemimpinan yang dapat menganggu para pekerja dari segi fokus hingga psikis.

Selain itu, sistem manajemen micromanage tidak memiliki parameter keberhasilan. Hal ini membuat perusahaan tidak dapat memberikan penilaian terhadap sistem manajemen tersebut.

Micromanagement juga tidak lagi dianggap relevan ketika perusahaan semakin berkembang dan stabil.

Mengapa demikian? Pasalnya, pekerja yang sudah matang dan mandiri membutuhkan ruang kerjanya masing-masing tanpa ada kontrol berlebih

Bahkan, micromanagement memiliki peran dalam angka turnover rate pegawai yang tinggi.

Hal ini berasal dari rasa tidak puas dan kinerja buruk pekerja yang disebabkan oleh kontrol berlebih dari atasan.

Dari penjelasan ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa micromanage menghambat kualitas kerja para pegawai.

Cara Mengidentifikasi Micromanage

© Freepik.com

Meskipun terlihat jelas, sebenarnya micromanage adalah sebuah gaya kepemimpinan yang cukup sulit untuk diidentifikasi.

Maka dari itu, kamu perlu tahu mengidentifikasi jika atasanmu adalah seorang micromanager.

Hingga saat ini, sifat-sifat micromanager tidak pernah berubah.

Pertama, micromanager tidak akan melimpahkan sebuah tugas secara cuma-cuma. Ia akan membuat anak buahnya mengerti menganai bagaimana cara ia bekerja.

Menurut HBR, dalam micromanage, kebiasaan atasan adalah menarik kembali pekerjaan yang baru saja diberi bila ia merasa cara kerja anak buahnya tak sesuai dengan rencana.

Karena adanya rasa kendali yang berlebih, micromanager hanya akan memberi keputusan bila ia terlibat dalam proses penentuan.

Micromanager tidak suka bila keputusan diambil bila ia tidak ikut andil dalam diskusi. Dalam kata lain, opini pribadi lebih penting daripada keputusan bersama.

Jangan lupa, ciri utama micromanage adalah saran dari atasan yang sifatnya tidak membangun. Kritik yang mereka berikan sifatnya subjektif.

OKR, Solusi untuk Micromanage

© Freepik.com

Menurut Process, Objectives and Key Results atau OKR, adalah teknik manajemen yang menyediakan segala elemen penting micromanagement tanpa kontrol yang berlebih.

Ditetapkan tiap kuartal dalam kalender kantor, OKR memberikan sebuah ruang bagi pekerja untuk dapat bekerja secara matang dan bebas kendali berlebih.

Meskipun OKR dikerjakan dengan sistem dan aplikasi, yang membuatnya efektif adalah persetujuan atasan dan para karyawan mengenai hak serta kewajiban masing-masing pihak.

Dengan ini, rasa bebas dan juga saran yang aspiratif diharapkan dapat mengalir dengan mudah.

Psikis dan kondisi pekerja terjaga, atasan pun dapat memonitor tanpa perlu ikut campur tangan dengan berlebih.

Itulah informasi terkait micromanagement yang bisa Glints sampaikan untukmu.

Intinya, micromanage adalah sebuah gaya kepemimpinan yang mungkin sudah tidak lagi relevan. Pekerja dan atasan perlu memiliki hubungan yang sehat agar dapat berkolaborasi dengan baik.

Maka dari itu, jangan ragu untuk menanggapi micromanage secara proaktif bersama rekan kerja.

Bila kamu merasa tidak nyaman, segera laporkan sistem kerja ini kepada tim HRD.

Setelah itu, cari solusi yang efektif bersama atasan. Dijamin, produktivitas dan interaksi di kantor akan kembali lancar.

Nah, selain penjelasan di atas, kamu bisa simak informasi lain yang serupa pada kanal dunia kerja Glints Blog.

Di sana, tersedia banyak pembahasan seputar tips dan istilah penting di dunia profesional yang sudah Glints rangkum menjadi artikel ringkas khusus untuk kamu.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, temukan artikel yang kamu minati di Glints Blog sekarang. Gratis!

Sumber

    Micro-Managing

    Signs That You’re a Micromanager

    Don’t Micromanage: How It Destroys Your Team and How to Avoid It

glints.com.