mediabangsa.com – Startup terus berjuang untuk berinovasi supaya bisa mendapatkan penghasilan. Salah satu metrik keuangan yang diandalkan oleh startup adalah GMV atau gross merchandise value.

Dalam dunia startup, istilah finansial yang satu ini penting untuk diketahui oleh CEO atau founder untuk mengklasifikasi valuasi dari startup itu sendiri.

Lalu, apa itu GMV? Bagaimana cara menghitungnya?

Tenang, untuk menjawab rasa penasaranmu, berikut Glints telah merangkumnya untukmu.

Apa Itu GMV?

© Freepik.com

Dilansir dari Investopedia, GMV adalah akumulasi nilai pembelian dari pengguna melalui situs atau aplikasi dalam periode tertentu.

Dalam beberapa istilah, gross merchandise value juga bisa disebut sebagai gross merchandise volume.

Secara garis besar, GMV merupakan sebuah tolak ukur dalam startup mengenai pertumbuhan bisnisnya.

Pada umumnya ,GMV bukanlah pendapatan atau revenue.

Sebab, tidak semua transaksi yang dilakukan melalui aplikasi atau situs langsung masuk ke dalam kantong startup.

Itulah kenapa sebaiknya startup tidak boleh mengandalkan GMV saja sebagai sumber pemasukan.

GMV ini lazimnya digunakan oleh startup yang bergerak di bidang e-commerce untuk mengukur pertumbuhan bisnisnya.

Baca Juga: Ketahui 5 Alasan Kenapa Branding Sangat Penting untuk Startup

Bagaimana Cara Menghitung GMV?

© Freepik.com

Nah, setelah mengetahui pengertian dari GMV, kira-kira bagaimana ya cara penghitungannya?

Menurut The Balance SMB, ada beberapa cara untuk menghitung GMV.

Rumus paling sederhana untuk retailer adalah menghitung harga jual yang berlaku dan dikalikan dengan jumlah barang yang terjual.

Misalnya, retailer menjual 10 handphone dengan masing-masing handphone seharga Rp1.000.000.

Maka, GMV yang kamu dapatkan adalah Rp10.000.000.

Aspek Negatif dari GMV

© Freepik.com

Jika dirunut dari penjelasan di atas, bisa dibilang GMV adalah salah satu pemasukan yang cukup menguntungkan bagi startup.

Kendati demikian, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sebaiknya startup tidak hanya mengandalkan metrik itu saja.

Seperti yang diketahui, bahwa dengan GMV startup dapat mengetahui berapa banyak jumlah barang yang telah dijual serta jumlah pendapatannya.

Akan tetapi, menurut Corporate Finance Institute, pada akhirnya GMV adalah sesuatu yang belum detail, tidak memberikan nilai sebenarnya dari barang yang dijual atau keuntungan bisnis.

Mengapa demikian? Sebab, biaya dan pengeluaran lainnya seperti iklan, produksi, dan sebagainya tidak diperhitungkan di dalam GMV.

Di sisi lain, meskipun dengan GMV kamu dapat mengetahui pertumbuhan bisnismu, metrik ini tidak menunjukkan total keuntungan bersih dari barang yang dijual.

Oleh karenanya, ada baiknya untuk menjadikan hitungan tersebut sebagai perkiraan mentah dari pendapatan perusahaan untuk memprediksi keuntungan ke depannya.

Startup harus mempertimbangkan untuk menggunakan GMV bersama metrik keuangan lainnya untuk mendapatkan gambaran keuangan yang sehat serta akurat.

Baca Juga: Ketahui 7 Inkubator di Indonesia untuk Pengembangan Startup-mu

Rekomendasi Metrik Keuangan Lain

© Freepik.com

GMV adalah satu dari beberapa metrik keuangan lainnya yang digunakan startup dalam finansial.

Selain itu, masih ada beberapa metrik keuangan lainnya untuk menambah sudut pandang baru mengenai keuangan.

Nah, berikut Glints akan memberikan beberapa rekomendasi metrik keuangan yang bisa kamu gunakan untuk mengembangkan startup:

1. Net merchandise value (NMV)

Dilansir dari Yieldify, net merchandise value atau NMV adalah hasil yang diperoleh setelah mengurangi semua biaya dan pengeluaran dari gross merchandise value selama periode waktu tertentu.

Dibandingkan dengan GMV, bisa dibilang NMV adalah metrik keuangan yang lebih realistis karena memperhitungan biaya, pengembalian dana, dan lain-lain.

Rumus dari NMV:

GMV – semua biaya (marketing, refund, dan payment gateway)

2. Customer acquisition cost (CAC)

Metrik keuangan yang satu ini dihitung dengan membagi semua biaya yang dihabiskan untuk mendapatkan pelanggan dengan jumlah total pelanggan yang diperoleh dalam periode waktu tertentu.

Sebagai contoh, kamu menghabiskan Rp50.000.000 untuk marketing dalam satu bulan dan memperoleh 500 pelanggan baru.

Maka, jumlah CAC-nya adalah Rp100.000.

Ini merupakan metrik yang bagus untuk diterapkan karena kamu dapat mengetahui apakah iklan yang dipasang efektif atau tidak.

3. Customer lifetime value (CLV)

Pada dasarnya, CLV memberi tahu seberapa baik kamu mempertahankan pelanggan yang sudah ada.

Apabila angkanya semakin tinggi, semakin besar keuntungan yang akan kamu dapatkan.

Untuk menghitungnya, kamu harus menghitung lifetime value terlebih dahulu.

Baca Juga: Pelajari 4 Kesalahan Umum Startup Ini agar Bisnis Tetap Terjaga

Itu dia penjelasan singkat mengenai GMV atau gross merchandise value beserta cara menghitungnya.

Pada dasarnya, GMV adalah salah satu metrik keuangan dalam startup yang memperhitungkan nilai kotor dari barang yang sudah terjual.

Tertarik dengan dunia startup? Kamu bisa memulai karier di dunia perusahaan rintisan lewat Glints, lho!

Di marketplace Glints, ada banyak perusahaan startup yang sedang membuka lowongan kerja. Cukup buat akun profesional, kamu bisa langsung melamar pekerjaan yang kamu suka.

Apa lagi yang kamu tunggu? Yuk, daftar dan lamar pekerjaan impianmu sekarang!

Sumber

    Gross Merchandise Value (GMV)

    Gross Merchandise Volume (GMV)

    Gross Merchandise Value (GMV)

    (GMV) Gross Merchandise Value: Meaning & Calculation