mediabangsa.com – Gaya kepemimpinan otoriter merupakan gaya manajemen tertua di dunia.

Beberapa tokoh dunia yang pernah memimpin dengan gaya otoriter adalah Genghis Khan, Napoleon Bonaparte, Queen Elizabeth I, Richard Nixon, dan Adolf Hitler.

Gaya kepemimpinan otoriter juga dikenal sebagai kediktatoran, kepemimpinan otoritatif, atau kepemimpinan tirani.

Nah, berikut Glints telah merangkum semua hal yang perlu kamu tahu seputar gaya kepemimpinan otoriter.

Apa Itu Gaya Kepemimpinan Otoriter?

Sumber: Pexels

Kepemimpinan otoriter adalah gaya manajemen yang menumpukan proses decision-making pada posisi kepemimpinan teratas.

Artinya, pemimpin sebagai kepala dari organisasi adalah satu-satunya pihak yang memiliki kontrol untuk membuat semua keputusan strategis.

Pemimpin yang otoriter biasanya jarang mempertimbangkan masukan dari anggota kelompok untuk membuat keputusan.

Hal ini karena pemimpin yang otoriter memutuskan segala sesuatunya hanya berdasarkan pertimbangan pribadi.

Kepemimpinan otoriter juga memiliki kontrol mutlak atas anggota yang dibawahinya.

Itu sebabnya, pemimpin yang otoriter sering memandang diri mereka seperti mesin mobil yang menggerakkan orang di bawah kendali atau perintah mereka.

Ciri-Ciri Kepemimpinan Otoriter

© Freepik.com

Secara garis besar, karakteristik dari gaya kepemimpinan otoriter adalah:

    Tidak meminta atau menerima masukan dari orang lain untuk mengambil keputusan.

    Sosok pemimpin membuat semua keputusan dalam perusahaan, baik skala kecil maupun besar.

    Pemimpin mengarahkan atau memberi mandat terkait semua metode, kebijakan, dan prosedur di tempat kerja.

    Anggota kelompok jarang dipercaya untuk membuat keputusan atau mengerjakan tugas penting.

    Pekerjaan cenderung sangat terstruktur dan sangat kaku.

    Kreativitas dan pemikiran out-of-the-box cenderung tidak didukung.

    Peraturan dijabarkan dan dikomunikasikan dengan jelas.

Namun dalam konteks ini, kompetensi pemimpin sebetulnya menjadi kunci yang sangat berarti.

Maka itu, tidak sembarang orang juga yang bisa menjabat kepemimpinan dalam organisasi dengan gaya otoriter.

Pemimpin otoriter yang hebat adalah yang sukses dalam memimpin dan menyatukan beragam individu unik untuk tetap selaras mengikuti flow kerja tanpa hambatan.

Merangkum Harvard Business Review, agar caranya efektif, pemimpin yang menganut gaya otoriter harus menunjukkan kompetensi dan kecerdasan emosional sebagai berikut:

1. Kemandirian

Pemimpin otoriter memikul beban moral yang tidak main-main untuk selalu bisa menghasilkan keputusan yang tepat sendiri setiap saat.

Mereka juga harus mampu dan siap menghadapi setiap tantangan yang datang.

Maka itu, ia harus menunjukkan kemandirian yang tinggi.

Seorang pimpinan otoriter juga sangat mengandalkan intuisi dan keyakinan diri sendiri untuk bisa mengenali masalah dan mempertimbangkan kemungkinan jalan keluarnya.

2. Bertanggung jawab

Pemimpin memutuskan sendiri solusi dan langkah-langkah kerjanya untuk menyelesaikan masalah.

Kemudian, ia sendiri jugalah yang mendelegasi tugas dan mengawasi jalannya setiap proses.

Maka itu, ia juga harus siap bertanggung jawab penuh selama memimpin tim dan membuat banyak keputusan penting seiring waktu.

Jika berhasil, maka apresiasi dan penghargaan sebagian besar akan mengalir padanya.

Begitu pun sebaliknya, jika rencana gagal total, mereka sendirilah yang menanggung akibatnya.

3. Memiliki keahlian di bidangnya

Pemimpin diharapkan memiliki sejumlah keahlian yang terkait dengan industri dan pengalaman yang baik di bidangnya.

Pemimpin yang baik harus memiliki bekal pemahaman yang kuat tentang masalah yang harus diatasi dan tujuan yang harus dicapai.

Mereka juga harus memiliki visi yang jelas untuk mencapai kesuksesan.

Ketika pemimpin adalah orang yang paling berpengetahuan dalam kelompok, kepemimpinan otoriter dapat menghasilkan keputusan yang cepat dan efektif.

4. Ambisius dan gigih

Jabatan kepemimpinan otoriter butuh diduduki oleh sosok dengan gaya ambisius, gigih, dan tidak mudah menyerah.

Pemimpin memiliki visi dan mampu memacu tim untuk menyelesaikan tugas secara efektif.

Pemimpin juga harus memiliki tekad kuat dan sifat ulet untuk bisa sukses dan menyelesaikan segala sesuatunya.

Selain itu, ia juga harus sigap menghadapi masa-masa yang menantang, kegagalan, dan ketidakpastian.

5. Konsisten dalam bertindak

Pemimpin bekerja untuk menjaga aturan, prosedur, dan kebijakan tetap sama. Oleh karena itu, ia perlu konsisten dalam komunikasi dan tindakan mereka.

Pemimpin yang efektif juga berpegang teguh pada transparansi karena merekalah yang membuat sebagian besar keputusan.

Maka itu, mereka harus terampil dan mahir menyampaikan dengan jelas apa yang mereka butuhkan dari anggotanya.

6. Kemampuan beradaptasi

Pemimpin mudah beradaptasi dapat cepat mengidentifikasi dan menghilangkan hambatan yang dapat menghambat kesuksesan.

Pemimpin otoriter juga harus selalu bisa tampil penuh percaya diri meski di bawah tekanan berat.

Hal ini dapat memberikan rasa aman bagi setiap orang yang bekerja di bawahnya.

Pasalnya, mereka benar-benar hanya bergantung pada pemimpin sebagai pembuat keputusan tunggal.

Perusahaan yang Tepat bagi Kepemimpinan Otoriter

Gaya kepemimpinan otoriter masih umum diterapkan di beberapa lembaga yang bertekanan tinggi, seperti militer, manufaktur, misi darurat, bisnis konstruksi, restoran, kedirgantaraan, dan perusahaan dengan kuota penjualan yang agresif.

Selain itu, kepemimpinan otoriter dapat cocok diterapkan pada bisnis yang membutuhkan panduan tegas untuk melewati krisis atau tantangan karena:

    Departemen atau tim yang tidak memenuhi tujuannya dalam kuartal terakhir.

    Pergeseran kepemilikan, kepemimpinan, atau struktur perusahaan.

    Perputaran perusahaan setelah penurunan.

    Akan mengalami perubahan struktur organisasi secara besar-besaran.

Kelebihan dan Kekurangan Gaya Kepemimpinan Otoriter

© Unsplash

Pemimpin otoriter bekerja paling efektif dalam masa penuh tekanan.

Berikut adalah beberapa kelebihan dan kekurangan dari gaya kepemimpinan otoriter, dikutip dari Verywellmind:

Kelebihan gaya kepemimpinan otoriter

    Efektif ketika keputusan harus dibuat dengan efisien dan cepat, tanpa waktu untuk berkonsultasi dengan orang lain.

    Mencegah bisnis atau proyek menjadi stagnan karena organisasi yang buruk atau kurangnya kepemimpinan.

    Membuat individu, kelompok, atau tim tidak kelewatan tenggat waktu proyek penting.

    Pemimpin dapat lebih mudah mengelola krisis ketika kendali ada sepenuhnya di tangan mereka.

    Arahan dan visi yang jelas.

    Pemimpin otoriter bekerja paling efektif dalam situasi penuh tekanan. Hal ini membuat setiap anggota tim menghormati kepemimpinannya.

Kekurangan gaya kepemimpinan otoriter

    Membuat kepemimpinan berpusat pada satu sosok tertinggi atau “pemimpin adalah penguasa”

    Sering menunjukkan kepercayaan pada nasihat, saran, ide, dan kemampuan decision-making orang lain.

    Karyawan yang berada di bawah kepemimpinannya tidak memiliki rasa ownership dan tanggung jawab terhadap pekerjaannya.

    Membuka peluang bagi pemimpin untuk menyalahgunakan jabatannya.

    Kesuksesan kepemimpinan berdasarkan rasa takut dan kepatuhan bawahan yang bersifat kaku.

    Membuat perusahaan berisiko bergantung pada satu orang saja, sehingga rentan membuat orang-orang di bawahnya sulit berfungsi ketika ia keluar.

Tips Menerapkan Kepemimpinan Otoriter

© Freepik.com

Kepemimpinan otoriter tidak memandang kebebasan individual. Akan tetapi, kepemimpinan otoriter masih dapat berhasil di berbagai industri modern jika cara menerapkannya tepat.

Berikut adalah beberapa tipsnya:

1. Hormati bawahan sebagai rekan kerja

Tunjukkan empati, objektivitas, dan rasa hormat terhadap rekan kerja.

Rasa hormat yang ditunjukkan pemimpin terhadap orang di bawahnya dapat merangsang budaya saling menghormati.

Jika kedua belah pihak bisa saling menghormati, ini membantu meredakan perselisihan di tempat kerja.

2. Komunikasikan secara detail

Sebagian besar karyawan tahu bahwa pemimpin menginginkan mereka untuk taat peraturan dan mengikuti prosedur.

Namun, beberapa mungkin tidak langsung bisa memahami apa yang benar-benar mereka butuhkan untuk melakukannya.

Maka itu, jelaskanlah secara detail dan gamblang mengenai semua ekspektasi, rencana kerja, dan tujuan akhirnya.

Kejelasan membantu staf memahami aturan sehingga mereka lebih mungkin untuk bekerja sama.

3. Bersikap adil

Ada risiko dari kepemimpinan otoriter untuk menumbuhkan rasa ketidakpercayaan.

Maka itu, pemimpin perlu memastikan bahwa mereka memperlakukan semua orang sama, dan bahwa mereka memberlakukan kebijakan yang sama terlepas dari siapa karyawannya.

Konsistensi menghasilkan kepercayaan dan membantu pemimpin mendapatkan rasa hormat dari orang-orang sekitarnya.

Karyawan menghormati keadilan dan perlakuan yang tidak memihak.

4. Izinkan berpendapat

Buat ruang bagi karyawan untuk bisa mengekspresikan diri dan menawarkan saran, sekecil apa pun itu.

Bahkan jika ide yang terkumpul tidak ada yang bisa diwujudkan, orang-orang tetap menghargai kebebasan untuk sharing pemikiran mereka.

Itulah segala hal yang perlu kamu tahu tentang gaya kepemimpinan otoriter termasuk kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya.

Memang selama ini, kesan otoriter adalah gaya memimpin yang buruk. Namun, hal ini juga bergantung pada setiap individu dan bagaimana penerapannya.

Jika tepat, maka gaya kepemimpinan satu ini bisa jadi keuntungan bagi tim dan perusahaan.

Selain kepemimpinan otoriter, masih banyak gaya kepemimpinan lain yang bisa kamu terapkan ketika di tempat kerja. Apa saja itu?

Tenang saja, kamu bisa mengetahuinya dengan membaca ragam artikel gaya kepemimpinan di Glints Blog. Yuk, klik di sini sekarang untuk cari tahu lebih lanjut!

Sumber

    5 PROS & CONS OF AUTHORITATIVE LEADERSHIP

    Autocratic Leadership