mediabangsa.com

Sebagian besar pecinta mobil pasti meragukan, atau bahkan takut menggunakan transmisi CVT dengan berbagai alasan, namun sebenarnya transmisi ini sangat nyaman digunakan. Meski akselerasi dengan transmisi ini terasa kurang bertenaga, CVT ternyata lebih baik dibanding transmisi otomatis konvensional dan manual dalam menjaga mobil ada dalam power band (rentang tenaga maksimal).

Kendati belum pernah digunakan balapan, transmisi CVT punya potensi luar biasa dengan FW15

Transmisi CVT juga memiliki sejarah balap, yakni saat dipakai Williams dalam pengembangan FW15, salah satu mobil F1 paling canggih yang mendominasi musim Formula 1 tahun 1993, namun sayang teknologi tersebut dilarang oleh FIA saat masih dalam tahap pengetesan.

Berbeda dari transmisi lainnya, CVT tidak bertumpu pada gerigi yang memiliki rasio berbeda-beda dan rantai, melainkan sabuk dan katrol yang memiliki rasio tak terbatas. Alhasil, transmisi ini tidak pernah benar-benar melakukan penggantian gigi.

Karena jumlah rasio yang tidak terbatas itu, mobil dengan transmisi CVT cenderung lebih halus dikemudikan ketimbang mobil serupa dengan transmisi otomatis konvensional. Bukan hanya itu, CVT juga memiliki efisiensi bahan bakar yang sangat baik.

Transmisi CVT Xtronic yang digunakan Nissan

Akselerasi yang terasa tidak natural ini membuat sebagian orang tidak begitu nyaman dengan transmisi CVT, belum lagi jika mengalami kerusakan. Sebagai contoh, untuk mengganti satu set CVT Nissan Livina kita harus menyediakan budget lebih dari Rp 50 juta, namun poin kedua dapat dihindari dengan cara mengemudi yang tepat.

Ada empat hal yang harus Anda hindari jika ingin transmisi Anda tetap prima, dan terhindar dari kerusakan yang akan menguras isi dompet, simak tips lengkapnya di bawah ini:

1. Meletakan persneling di N (Netral) saat berhenti

Kecuali mobil Anda menggunakan transmisi manual, menempatkan persneling di posisi N saat berhenti tidak diperlukan. Saat Anda berhenti, Anda dapat membiarkan persneling tetap di D, baik itu CVT ataupun transmisi otomatis konvensional.

Jika transmisi otomatis Anda menggunakan kopling, seperti Dual Clutch Technology, maka transmisinya akan terlepas dengan sendirinya jadi Anda tak perlu repot-repot meletakkan persneling di N saat mobil berhenti.

2. Menahan mobil di tanjakan dengan gas

Dalam kondisi seperti, gunakan rem serta handbrake untuk menahan kendaraan Anda

Anda tidak akan mendapat masalah apapun jika menggunakan transmisi CVT berbasis torque converter ataupun eCVT. Namun, hal ini akan sangat riskan bagi pengguna CVT berbasis kopling.

Ya, kopling CVT Anda akan aus dan pada akhirnya rusak jika Anda menahan mobil Anda di tanjakan dengan gas. Untuk hal ini, kami sarankan Anda lebih baik menahan mobil dengan rem.

3. Mengubah posisi persneling ke netral saat mobil ‘nyelonong’

Pada umunya, dengan transmisi CVT anda tak perlu mengganti posisi persneling ke netral saat Anda melepas gas dan membiarkan mobil ‘nyelonong’. Biarkan saja ada di D, toh itu masih bisa menghemat penggunaan bahan bakar. Khususnya untuk mobil hybrid, di mana e-CVT akan mengubah bahan bakar yang terpakai menjadi energi tambahan pada baterai.

Sementara itu, CVT konvensional akan mengatur rasio gir, atau bahkan melepas kopling jika dibutuhkan. Jadi menurut kami memindahkan posisi persneling ke netral saat mobil ‘nyelonong’ itu tidak diperlukan.

4. Mengubah arah kendaraan sebelum mobil benar-benar berhenti

Pastikan mobil benar-benar berhenti sebelum mengubah arah mobil

Jangan langsung mengubah posisi persneling Anda dari D menuju R sebelum mobil benar-benar berhenti. Jika Anda melakukan itu, kemungkinan besar akan merusak beberapa komponen transmisi CVT, yang tentu saja tidak akan murah untuk memperbaikinya. Namun untuk beberapa mobil modern, Anda akan mendapatkan sistem yang mencegah perpindahan arah mobil sebelum benar-benar berhenti.

Berikut empat hal yang harus Anda hindari dengan transmisi CVT, untuk tips & trik lainnya Anda dapat melihatnya di Cintamobil.com.