mediabangsa.com – JAKARTA – Populasi mobil listrik murni di Indonesia mulai meningkat seiring semakin banyaknya pabrikan otomotif yang memasarkan produknya. Hal ini seiring dengan tujuan untuk mengurangi emisi karbon dioksida di kota besar seperti Jakarta yang belakangan sangat tinggi kadar polusinya. Menyebut mobil listrik adalah keniscayaan sepertinya bukan lagi isapan jempol belaka.

OTO Media Group dalam program khusus “ELECTRIA: Know Your Best EV Criteria” coba menyelami inti fungsi dan keuntungan menggunakan mobil listrik. Ada 3 unit mobil setrum yang kami coba yakni Hyundai Kona EV, Hyundai Ioniq 5, dan Nissan Leaf. Saya lebih memilih Kona EV, sebuah SUV (Sport Utility Vehicle) yang secara DNA bisa diandalkan di hampir segala medan jalan.

Banderolnya bila merujuk laman resmi Hyundai Motors Indonesia (HMID), ada di angka Rp 742 juta on the road Jakarta. Meski memang punya teknologi listrik, banderolnya cenderung tinggi yang tak heran jika populasi kendaraan ini belum bisa menandingi mobil dengan penggerak Internal Combustion Engine (ICE).

Tapi tak apa, kalau kemampuan finansial Anda cukup, ingin tampil beda dan berperan mengurangi polusi udara di perkotaan, maka Hyundai Kona EV adalah salah satu model yang pas saat ini.

Lalu, bagaimana rasa berkendara, performa, efisiensi isi daya, kepraktisan, dan teknologi yang ada dari mobil kelahiran Korea Selatan ini? Saya akan coba jabarkan pengalaman berkendaranya secara detail seperti berikut.

Hyundai Kona EV yang diuji adalah model facelift, dia meluncur pada Februari 2021 lalu. Dari data spesifikasi resmi ada peningkatan jarak tempuh dari semula 289 km menjadi 345 km. Entah apa yang direvisi, tak ada penjelasan detail dari pabrikan, namun yang jelas ini sebuah hal yang menguntungkan untuk penggunanya.

Kendati demikian angka jarak tempuh itu adalah sebuah klaim perusahaan, untuk kondisi nyata Anda bisa melihat jangkauan asli pada head unit. Tepatnya di pengaturan EV, di situ tertera jelas sisa baterai sekaligus berapa jauh lagi mobil ini bisa berjalan.

Awal pengujian dimulai dari SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) di Gambir, Jakarta Pusat menuju Kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), dan berakhir di Tangerang Selatan dengan total jarak 96,7 km berdasarkan MID.

Buat diketahui, Hyundai Kona EV dibekali dengan baterai 39,2 kWh, saat pengisian di Gambir sisa baterai sudah berkurang maka butuh asupan listrik 17,71 kWh untuk menjadi penuh. Sistem pengecasan pakai model DC dengan metode fast charging CCS2, kira-kira untuk penuh saya perlu menunggu sekitar 65 menit.

Semua data menyoal lama isi hingga detail pengeluaran biaya bisa dipantau lewat aplikasi Charge.IN. Dalam kasus pengisian ini sebanyak 17,71 kWh maka saya mengeluarkan uang Rp 45.846. Nominal tersebut sudah termasuk dengan biaya PPJ (pajak penerangan jalan) PLN dan admin LinkAja.

Charge.IN sendiri terkoneksi dengan aplikasi LinkAja untuk kebutuhan pengisian saldo. Lewat Charge.IN Anda juga bisa menentukan besaran kWh yang dibutuhkan. Nah, misalnya jumlah kWh yang disi ternyata berlebih, jangan khawatir nominal saldo (per 1 kWh: Rp 2.466) akan dikembalikan secara otomatis ke akun pemilik.

Pengalaman isi daya listrik di SPKLU PLN Gambir berjalan lancar. Tapi ada 1 pengalaman kurang enak ketika mengisi di SPKLU Tangerang City Mall, entah mengapa alat pengisian tak berfungsi. Sudah beberapa kali coba pun selalu gagal, ditambah kondisi lokasi yang kotor dan saya bisa bilang fasilitasnya seperti tak dirawat. Cukup disayangkan.

Oke, setelah baterai terisi penuh 100 persen, perjalanan dalam kota dimulai. Di sini tentu merasakan posisi berkendara hingga pengendalian dari Hyundai Kona EV.

Saya suka pengaturan setirnya selain tilt, tapi bisa diatur jarak teleskopiknya yang cukup panjang. Selain itu jok juga bisa diatur berbagai arah dengan sistem elektrik, baik pengemudi dan sisi penumpang depan.

Duduk sebagai driver dengan tinggi badan 175 cm visibilitas ke depan pun luas, khas sebuah SUV pada umumnya. Jok bisa menopang area punggung dan paha dengan sempurna, karakternya juga empuk premium berlapis kulit.

Namanya juga mobil listrik, sensasi hening jadi hal yang menarik. Tekan tombol start layar panel meter TFT menyambut dengan interface yang menarik tanpa ada suara sedikit pun. Untuk mengetahui teknologi listrik sudah menyala bisa dipantau di cluster meter dengan informasi bertuliskan ‘Ready’.

Hyundai Kona EV tak lagi menggunakan tuas persneling konvensional, diganti dengan model tombol atau yang pabrikan sebut sebagai Button shift-by-wire. Pertama kali menggunakannya memang cukup canggung, butuh adaptasi namun bila sudah terbiasa justru lebih praktis.

Secara keseluruhan, mengemudikan mobil listrik Hyundai Kona tak begitu berbeda dengan mobil konvensional. Perbedaan paling terasa hanya mobil ini tanpa suara, selebihnya soal rasa menginjak pedal akselerator maupun rem, saya bisa bilang persis sama.

Mencobanya sebagai kendaraan untuk mobilitas harian jujur saja mengasyikan. Buat akselerasinya, sama saja pedal diinjak tipis-tipis untuk melaju perlahan. Ketika butuh asupan kecepatan agak tinggi, sedikit injak pada pedal maka secara linear pun kecepatan bertambah.

Itu kasus bila mengemudikan Kona EV di kondisi macet dan padat. Bila kondisi ramai lancar, tinggal injak pedal akselerator dalam-dalam, maka laju mobil langsung naik secara instan. Sensasinya luar biasa, ketika pakai mode drive ke Sport tubuh terasa tertarik ke belakang.

Itulah ciri khas mobil listrik, daya berantai yang dihantarkan lewat inverter ke motor listrik langsung didistribusikan ke roda penggerak. Nah, untuk Hyundai Kona EV disalurkan langsung lewat 2 roda depan.

Yang membuat Hyundai Kona EV ini lebih menyenangkan lagi adalah dengan adanya 3 modus berkendara: Eco, Normal, dan Sport. Kita juga bisa mengatur level dari Regeneratif-nya lewat tuas di balik kemudi, semakin tinggi level yang dipilih semakin pula deselerasi mobil terasa. Ketika momentum deselerasi aktif atau saat menginjak rem, secara otomatis akan mengubah energi kinetik menjadi listrik yang kemudian mengisi daya baterainya.

Sayangnya di Hyundai Kona EV belum tersedia i-Pedal seperti di Hyundai Ioniq 5. Namun dengan adanya fitur regenerative braking, sensasi yang ditawarkan saya bisa bilang sama saja, meski memang tak sepraktis i-Pedal.

Saya akan bahas secara ringkas saja bagaimana karakter dari drive mode yang dimiliki Hyundai Kona EV. Opsi sport, tentu saja akselerasi lebih buas, hentakan sangat terasa dan tenaga serta torsi lebih instan. Saat pedal akselerator diinjak full, tak terasa kecepatan langsung ada di kisaran 90 km per jam.

Sementara pilihan Normal, karakter akselerasi sedikit tereduksi agar kenyamanan berkendara lebih diutamakan. Ketika pakai modus ini, konsumsi baterai menjadi normal, tidak cepat habis seperti di mode Sport.

Yang terakhir adalah Eco, buat yang satu ini jadi pilihan dan rekomendasi saya ketika menggunakan Hyundai Kona EV di dalam kota. Rasa akselerasi dan hentakan sudah lebih dari cukup, tenaga dan torsi terbilang melimpah. Ya balik lagi, kondisi jalanan Jakarta yang padat merayap, pakai mode ini sudah sangat bisa diandalkan dan yang terpenting lebih hemat daya baterai.

Untuk handlingnya, jujur saja membawa Hyundai Kona EV terasa rigid. Di dalam kota dengan tekstur aspal yang mayoritas rata suspensi dari mobil listrik ini bisa meredam dengan sangat baik.

Bermanuver juga andal, tak goyang atau limbung. Selain rancang kaki-kaki yang apik, kemungkinan besar peletakan komponen baterai di bawah mobil turut menyumbang kenyamanan handlingnya.

Seluruh roda pakai velg berukuran 17 inci dengan balutan ban 215/55. Sementara konstruksi bangunnya memiliki wheelbase 2.600 mm dengan dimensi panjang 4.205 mm, lebar 1.800 mm, dan tinggi 1.570 mm.

Meski handlingnya positif di jalan raya dalam kota maupun tol, namun melewati jalan yang rusak karakter suspensi terasa sedikit keras. Bukan keras yang membuat area tubuh tidak nyaman, masih dalam batas toleransi. Bisa jadi rancang karakter peredamnya yang tak terlalu empuk memungkinkan mobil ini melewati berbagai kondisi jalan.

Untuk mobil dengan banderol yang tak bisa dibilang murah, Hyundai Kona EV punya sederet fitur penting guna memberikan kenyamanan dan kepuasan para pemiliknya. Yang paling baru dari model facelift ini adalah hadirnya SmartSense yang di antaranya lane keeping assist, lane departure alert, blind spot collision assist, rear cross traffic collision assist, hingga forward collision assist.

Selain itu, mobil ini juga dibekali dengan pengereman ABS, kontrol traksi, airbags, ISOFIX, hingga rem parkir elektrik. Dan untuk fitur pemanja sudah mengaplikasikan sunroof, heater & cooling seat. Lebih detailnya seperti di bawah ini.

• Pengaturan audio di setir• Head unit layar sentuh 8 inci dengan konektivitas Android Auto dan Apple CarPlay• Cruise control• Rear Seat Quiet Mode• Keyless entry dungan remote engine start• Paddle Shift untuk regenerative braking• Engine start stop button• Wireless Charging• Port USB• Pengaturan jok elektrik• Head up display• Rain sensor.

Konsumsi Daya Listrik

Singkatnya sudah tiba di destinasi terakhir di kawasan Serpong, Tangerang Selatan. Melewati berbagai kondisi jalan, mulai dari padat merayap, ramai lancar, sesekali membawa dalam posisi kecepatan tinggi, dan menggunakan drive mode di sisa baterai ada di 75 persen.

Artinya mengendarai Hyundai Kona EV dengan jarak 96,7 km pemakaian normal kombinasi layaknya mobil konvensional hanya terkuras 25 persen saja. Bila dikalkulasi butuh sekitar 9,8 kWh agar mobil kembali terisi penuh. Jadi hitungnya seperti ini, 9,8 kW dikalikan Rp 2.466 (per 1kWh) hasilnya adalah Rp 24.166.

Kemudian hasil dari MID tertera konsumsi daya listrik rata-ratanya adalah 9,7 km/kWh. Sekarang kita bandingkan dengan mobil konvensional kelas LMPV 1.500 cc, umumnya konsumsi BBM rata-rata didapat 14 km per liter pemakaian dalam kota, untuk menjelajah sejauh 96,7 km setidaknya perlu uang Rp 86 ribu dengan asumsi pakai BBM non subsidi seperti Pertamax (RON 92) di Rp 12.500 per liternya.

Perbandingan kasus:

Mobil listrik Hyundai Kona EV: 9,7 km/kWh (jarak tempuh 96,7 km): Rp 24.413

Mobil bensin LMPV 1.500 CC: 14 km/liter (jarak tempuh 96,7 km): Rp 86.250.

Meski memang terbilang irit dan jauh lebih hemat pengeluaran uang untuk isi daya, mobil listrik perlu pengembangan lagi soal ketersediaan SPKLU. Seperti saya contohnya, domisili di Tangerang belum banyak fasilitas yang disediakan, jika pun ada kondisinya tak terawat seperti di Tangcity Mall. Kemudian bila daya listrik rumah tak besar, lama pengisian dari mobil listrik juga semakin lama.

Namun melihat tekad dan keseriusan pemerintah, ditambah akselerasi dari masing-masing merek kendaraan, kita boleh berharap jika kelak penggunaan dan kepraktisan dari mobil listrik semakin baik lagi. Apalagi jika nantinya banderol yang ditawarkan produsen bisa lebih digapai konsumen, kendaraan jenis ini pasti jadi tujuan para pelanggan. Semoga saja, mobil listrik benar sebuah keniscayaan untuk Indonesia.(BANGKIT JAYA / WH)